PRESIDEN Amerika Serikat, Donald Trump, menginstruksikan para delegasinya untuk tidak tergesa-gesa dalam merampungkan kesepakatan damai dengan Iran. Meski rumor menyebutkan kesepakatan kedua negara sudah di depan mata, Trump menegaskan kualitas perjanjian jauh lebih penting daripada kecepatan.
Melalui unggahannya di media sosial Truth Social pada hari Minggu, Trump menyatakan bahwa negosiasi berjalan secara teratur dan konstruktif.
“Saya telah menginformasikan perwakilan saya untuk tidak terburu-buru mencapai kesepakatan karena waktu berpihak pada kita,” tulis Trump. “Kedua belah pihak harus menggunakan waktu mereka dan melakukannya dengan benar. Tidak boleh ada kesalahan!”
Kabar yang beredar di media AS menyebutkan bahwa draf kesepakatan tersebut mencakup perpanjangan gencatan senjata selama 60 hari, pembukaan kembali Selat Hormuz, serta negosiasi lanjutan terkait program nuklir Iran. Beberapa laporan juga mengindikasikan Iran bersedia menyerahkan sekitar 440 kg uranium yang diperkaya tinggi miliknya.
Polarisasi di Internal Washington
Sinyal kemajuan ini memicu perpecahan di kubu Partai Republik. Senator Ted Cruz secara terbuka mengkritik langkah tersebut dan menyebutnya sebagai “kesalahan yang membawa bencana”. Senada dengan Cruz, Roger Wicker selaku Ketua Komite Angkatan Bersenjata Senat, menilai gencatan senjata 60 hari hanya akan menyia-nyiakan seluruh pencapaian militer AS dalam Operation Epic Fury.
Sebaliknya, Anggota Komite Urusan Luar Negeri DPR AS, Mike Lawler, justru membela Trump. Menurutnya, pemerintah telah berhasil memaksa sisa-sisa rezim Iran masuk ke dalam meja negosiasi yang sesungguhnya.
Ketegangan yang Belum Sepenuhnya Padam
Hubungan kedua negara memanas setelah AS dan Israel meluncurkan serangan besar-besaran ke Iran pada 28 Februari lalu, yang dibalas Iran dengan menyerang Israel serta sekutu AS di Teluk. Gencatan senjata yang disepakati pada April lalu berhasil meredam konflik, walau sesekali masih terjadi saling tembak.
Trump kembali menegaskan bahwa Iran “harus memahami” bahwa mereka tidak boleh mengembangkan senjata nuklir. Guna menjaga posisi tawar, Trump memastikan blokade pelabuhan Iran yang berjalan sejak awal April tidak akan dikendorkan.
“Akan tetap berlaku sepenuhnya sampai kesepakatan dicapai, disertifikasi, dan ditandatangani,” tegas Trump.
Di sisi lain, penutupan Selat Hormuz oleh Iran,jalur air vital bagi 20% pasokan minyak dunia, telah melambungkan harga minyak global. Namun, Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, memberikan sinyal positif bahwa kemajuan dalam 48 jam terakhir dapat membuka kembali selat tersebut secara penuh tanpa biaya sewa.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, membenarkan adanya kemajuan menuju nota kesepahaman (MoU) untuk pembicaraan tambahan, meski ia mengingatkan masih ada satu atau dua poin perbedaan yang krusial. Sementara itu, Wakil Perdana Menteri Pakistan, Ishaq Dar, yang bertindak sebagai mediator, menyatakan optimismenya bahwa hasil positif kini sudah berada dalam jangkauan. (BBC/Z-2)