loading…
CIA ingin perkuat pengaruhnya di Erppa di tengah menguatnya posisi Rusia dan China. Foto/X/@crowningred
Politico melaporkan, mengutip tiga orang yang mengetahui masalah tersebut bahwa Ratcliffe bertemu dengan diplomat tertinggi Uni Eropa, Kaja Kallas, serta pejabat senior dari Pusat Intelijen dan Situasi Uni Eropa (INTCEN) dan Direktorat Intelijen Staf Militer Uni Eropa (EUMS). Ia berusaha menegaskan kembali komitmen Washington untuk berbagi intelijen dan menyampaikan bahwa CIA “ingin tetap membuka jalur komunikasi,” kata Politico.
BacaJuga: Ukraina Kirim Pasukan Khusus ke Pokrovsk yang Dikepung Tentara Rusia, Strategi Jitu atau Aksi Bunuh Diri?
Juru bicara CIA, Liz Lyons, mengatakan kepada media tersebut bahwa Ratcliffe membahas “ancaman yang berkembang” dari Rusia dan China. “Laporan apa pun yang menunjukkan kekhawatiran bahwa AS bukanlah mitra yang dapat diandalkan adalah salah dan tidak sesuai dengan kenyataan,” ujarnya.
Politico menyatakan bahwa beberapa sekutu mulai kehilangan kepercayaan setelah Presiden AS Donald Trump sempat menangguhkan pembagian informasi intelijen dengan Ukraina Maret lalu dan menunjuk “loyalis” untuk posisi-posisi kunci. Beberapa politisi Demokrat telah menyebut Tulsi Gabbard, pilihan Trump untuk mengawasi badan intelijen, sebagai “aset Rusia,” yang dibantahnya.